Ulang tahun yang tidak lagi dirayakan.
Hari ini senang.... Anehnya tepat ketika aku menuliskan kalimat diatas, ada pertanyaan muncul "apakah boleh bahagia hari ini?"
Hari ini ulang tahun Papa, 10 juli
Ulang tahun pertama setelah Papa meninggal
Entah apa nama “ulang tahun” untuk ia yang sudah berhenti, dan tidak mau mengulang
Seperti biasa, rasa sedih adalah sesuatu yang terasa familiar, sangat nyaman kehadirannya
Ketika rasa bahagia datang, aku seperti mencari-cari apa yang hilang.
Takut kalau-kalau rasa senang segera berganti, atau justru membuatku jatuh terlalu dalam… dan lupa bahwa hari ini adalah hari yang seharusnya penuh kehilangan.
Lucunya, bukan ini yang mau aku tuliskan pada jurnalku malam ini
Hari ini aku senang....
Aku senang karena produktif, bisa mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan
Juga beli pulpen lucu-lucu, pakai adult money. Was it overpriced? Yes. Do I regret it? Not at all.
Sebetulnya itu yang mau aku tulis
Tetapi, ternyata sulit rasanya menuliskan hal-hal menyenangkan tanpa mempertanyakan: Kenapa harus senang? Kenapa bisa senang? Memangnya boleh senang?
Aku jadi teringat obrolanku bersama Kak Lala di Klan Ciheuleut, Minggu lalu (06/07).
Aku bercerita soal kesulitanku menjawab sebuah journal prompt: "Apa momen paling bahagia dalam hidupmu?" karena ketika aku mengingat satu momen bahagia, selalu muncul juga perasaan yang menyertainya: cemas, sedih, atau luka.
Seperti ada lapisan-lapisan yang ikut muncul dan mengingatkanku bahwa ternyata aku tidak tau kapan aku merasa bahagia secara utuh.
Aku tidak begitu ingat bagaimana tepatnya, tetapi kurang lebih ini kata Kak Lala,
“Perasaan bahagia nggak harus bersih dari semua emosi lain. Kalau waktu itu kamu merasa senang, meskipun ada cemas atau sedih juga, bahagianya tetap nyata. Kita bisa merasakan banyak hal dalam satu waktu, dan itu valid.”
Menariknya, kalimat itu baru benar-benar masuk ke pikiranku sekarang, ketika aku sedang menulis jurnal ini.
Despite all of it,
I’m grateful that I journal.
Karena bisa belajar jujur sama perasaan sendiri, bisa memvisualisasikan pikiran kusut yang ada dikepala.
Meskipun kadang, perasaan yang sepertinya sudah jelas, ketika dituliskan malah jadi semrawut dan tumpang tindih.
Tapi memang begitulah manusia, begitu banyak lapisannya, semuanya tidak serta merta ada, semuanya kembali ke sebab-akibat
Dan lucunya lagi, kadang aku berbohong juga pada jurnalku sendiri.
Memanipulasi ceritaku sendiri.
Cerita yang kualami, yang kutahu, yang kutulis… dan kubaca sendiri.
Begitulah malam ini.
Aku belajar menerima bahwa bahagia juga tidak apa-apa,
Sesekali izinkan dirimu bahagia.
Bahwa Papa juga ikut senang dan tenang
Pada apa-apa yang aku usahakan saat ini
Al-Fatihah……